Adab Berdzikir dengan Tasbih yang Benar
Dzikir adalah aktivitas mengingat Allah yang dianjurkan dilakukan kapan saja — setelah shalat, di pagi dan petang hari, maupun di sela-sela kesibukan sehari-hari. Untuk memudahkan penghitungan bilangan dzikir, banyak umat Islam menggunakan tasbih sebagai alat bantu. Artikel ini membahas adab dan tata cara berdzikir dengan tasbih yang sesuai tuntunan, agar aktivitas ini semakin bermakna dan khusyuk.
Apa Itu Dzikir dan Mengapa Penting?
Secara bahasa, dzikir berarti "mengingat". Dalam konteks ibadah, dzikir adalah ucapan-ucapan yang memuji dan mengagungkan Allah SWT, seperti tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (La ilaha illallah). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"...(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Adab Berdzikir dengan Tasbih
1. Menjaga Kesucian dan Kebersihan
Meski dzikir dapat dilakukan dalam kondisi apa pun, sebagian ulama menganjurkan berdzikir dalam keadaan suci sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah ini, terutama saat berdzikir setelah shalat.
2. Memegang Tasbih dengan Tangan Kanan
Kebiasaan yang umum diamalkan adalah memegang tasbih dengan tangan kanan, menggeser satu butir demi satu butir menggunakan ibu jari untuk setiap kali lafaz dzikir diucapkan.
3. Mengucapkan Dzikir dengan Tenang dan Meresapi Makna
Adab yang paling penting bukan sekadar menggeser butiran tasbih dengan cepat, melainkan mengucapkan setiap lafaz dengan tenang, tartil, dan meresapi maknanya. Dzikir yang dilakukan dengan hati hadir jauh lebih bernilai daripada sekadar menyelesaikan hitungan.
4. Melirihkan Suara di Tempat Umum
Ketika berdzikir di tempat umum seperti masjid bersama jamaah lain, dianjurkan untuk melirihkan suara agar tidak mengganggu kekhusyukan orang di sekitar, kecuali dzikir yang memang disunnahkan dikeraskan seperti takbir hari raya.
Bacaan Dzikir setelah Shalat
Berdasarkan hadits yang masyhur diriwayatkan dari Rasulullah SAW, susunan dzikir setelah shalat fardhu yang umum diamalkan adalah:
| Lafaz | Arti | Jumlah |
|---|---|---|
| Subhanallah | Maha Suci Allah | 33 kali |
| Alhamdulillah | Segala puji bagi Allah | 33 kali |
| Allahu Akbar | Allah Maha Besar | 33 kali |
| La ilaha illallah... | Penyempurna hitungan ke-100 | 1 kali |
Inilah salah satu alasan mengapa tasbih dengan 33 butir menjadi ukuran paling populer — cukup digeser sekali putaran penuh untuk setiap kalimat dzikir tersebut.
Menggunakan Tasbih Ukuran 99 atau 1000
Tasbih dengan 99 butir sering dikaitkan dengan jumlah Asmaul Husna, sementara tasbih 1000 butir umumnya digunakan untuk sesi dzikir yang lebih panjang, seperti saat mengisi waktu luang di rumah atau bermajelis bersama keluarga.
Hukum Menggunakan Tasbih dalam Islam
Terdapat riwayat yang menyebutkan sebagian sahabat menggunakan media penghitung dzikir seperti kerikil atau biji-bijian yang dirangkai. Berdasarkan hal ini, mayoritas ulama berpendapat bahwa menggunakan tasbih sebagai alat bantu hukumnya mubah (boleh) dan tidak termasuk perkara yang dilarang, selama diniatkan sebagai sarana memudahkan dzikir — bukan dianggap sebagai kewajiban tersendiri.
Reyhan Esans menghadirkan koleksi tasbih kuka dalam berbagai ukuran untuk menemani aktivitas dzikir harian Anda, dipadukan dengan aroma kayu alami yang menenangkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa dzikir yang paling utama dibaca setelah shalat?
Berdasarkan hadits yang masyhur, dzikir setelah shalat fardhu meliputi Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar masing-masing 33 kali, kemudian disempurnakan dengan kalimat tauhid, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits sahih.
Apakah menggunakan tasbih termasuk sunnah?
Terdapat riwayat yang menyebutkan sebagian sahabat menggunakan media penghitung dzikir seperti kerikil atau biji-bijian yang dirangkai. Ulama sepakat bahwa hukum menggunakan tasbih adalah mubah (boleh) sebagai alat bantu, selama tidak menganggapnya wajib.
Bagaimana cara memegang tasbih yang benar?
Tasbih umumnya dipegang dengan tangan kanan, butiran digeser satu per satu menggunakan ibu jari sambil mengucapkan lafaz dzikir, dimulai dari butir setelah penanda (imam) hingga kembali ke titik awal.
Apakah boleh berdzikir tanpa tasbih?
Tentu boleh. Tasbih hanyalah alat bantu untuk memudahkan penghitungan; dzikir tetap sah dan bernilai ibadah meski dilakukan tanpa tasbih, menggunakan jari tangan, atau dihitung dalam hati.
Ingin tahu lebih dalam tentang tasbih kuka? Baca juga apa itu tasbih kuka atau jelajahi koleksi tasbih kami.
Dengan pengalaman lebih dari 35 tahun, kami menulis panduan seputar ibadah, dzikir, dan perlengkapan penunjangnya. Hubungi kami via WhatsApp untuk pertanyaan lebih lanjut.
Sumber & referensi: Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan Al-Qur'an, hadits yang masyhur, dan pendapat ulama umum mengenai adab dzikir.
← Kembali ke semua artikel blog
Parfum roll-on premium, tasbih, ihram & perlengkapan Haji-Umrah — sejak 1991.
Kunjungi toko →Diskon 10% untuk pesanan pertama — kode kupon: ILK10